Wednesday, May 24, 2006

kemarin kawan malaikat kecilku, sedang berkabung, apakah yang menjadi titik persoalannya???? aku juga tak tahu dan tidak mencoba untuk sok tahu???, tetapi kawanku yang menjadi pacarnya juga tak mengerti arti air mata???, bukankah semua ini hanyalah soal terputusnya kejujuran??, apakah kawanku yang bernama "ade" juga pernah jujur untuk mengatakan bahwa ia juga punya yang "lain", lalu apakah ketika "desi" juga punya yang lain maka itu akan dikatakan sebuah pengkhianatan lalu siapakah yang juga mengkhianati dan terkhianati, bukankah kita hanya bermain dengan kepalsuan, sungguh sangat tak disadari?apakah arti sebuah ego ?, apakah ego juga dapat melunturkan kejujuran,...??? ego karena terkhianati, walaupun sebenarnya tak jelas pula siapa yang terkhianati?, saya tak pernah berpikir bahwa ini semua hanyalah ajang saling balas-membalas, lalu apakah sebuah eksistensi itu sangat penting untuk diaktualkan lewat bentuk penindasan???, lewat kemarahan yang dianggap mengaktualkan peran "lelaki berprinsip", lelaki tangguh, tidak tergoyahkan dsb. apakah pentingnya sebuah eksistensi?, orang-orang yang sangat memerlukan eksistensinya untuk diketahui oleh orang lain hanyalah orang-orang yang memang krisis eksistensi?, dia butuh diketahui oleh orang lain tentang kehebatannya,"aku telah membuat si anu menangis, lihatlah aku menang???,"apakah itu yang diinginkan oleh seorang "ade", seorang sosok kader? yang juga kurang paham akan eksistensinya?, ke-ada-annya bukankah sebagai seorang pacar? bukan penindas moral?, satuhal yang kutahu bahwa dalam sebuah strata sosial yang dilingkupi oleh bersatunya dua kelompok, dalam hal ini, aku, ade, ale, dan kelompok desi, iin, reni, naya, jumi, dsb? semuanya saling berkorelasi, aku dan iin, desi dan ade??, ketika konflik menyerang desi dan ade maka apakah saya yang teman ade juga harus terlibat? sedangkan desi adalah teman pacarku, iin, lalu kemanakah aku harus berpihak? pada kebenaran? sedangkan kebenaran sekarang adalah dua sisi mata uang, adalah buah simalakama?, atau haruskah saya egois dan melupakan bahwa tak pernah terjadi sesuatu? haruskah seperti itu? seakan-akan tak bernurani?,
dan sorenya ade berbicara padaku
"bagaimana hubunganmu dengan iin?,lev????"
"seperti biasa, tak ada yang semakin membaik dan tak ada yang memburuk"
"apa yang kau ceritakan bersama desi"
"tak ada hanya soal kemerdekaan"
"bagaimana kalo kita putus dua-duanya, maksudnya kamu juga dengan iin"
"tak ada alasan yang jelas ade, justru itu blunder, karena ketika ada momen kita mengambil sebuah keputusan?"
dalam pikiranku, ade menginginkan konfliknya adalah juga konflikku, sayangnya aku juga melihat kebenaran, bahwa malaikat kecilku adalah soal lain?, kami tak pernah memutuskan sebuah konsensus bahwa ada hal yang seperti dipikirkan olehmu ade? ini soal kedewasaan, bukan soal kekanakan?, apakah wajar karena kalian berkonflik lalu aku dan malaikat kecilku harus juga berkonflik agar dikatakan setia kawan, apakah kalau kau mati kawan, aku juga harus mati?, apakah kemerdekaanmu adalah milikku? ataukah kemerdekaanku adalah milikmu? kita merdeka atas diri kita masing-masing dan kemerdekaanku adalah aku memilih MALAIKAT KECILKU

No comments: