Wednesday, December 13, 2006

kita lupa sesuatu
disini dalam sebungkus imaji
dan lahirlah apa yang kubaca ini

kita lupa sesuatu
disana dalam sekerat emosi
dan ialah kau kusayangi

mungkin kita ingat sesuatu
disini dalam sebungkus imaji
dan kita mengenal benci
atau memaknai
sebuah senyum dipinggir, sebagai olokan

mungin kita ingat sesuatu
disana dalam sekerat emosi
kita telah membunuh dan mati
sampai semua mengakui
adalah kita manusia saling membunuh

mungkin suatu saat kita akan lupa atau ingat
bahwa nafas kehidupan tak berhenti
hingga panggilan Ilahi
menyeret ruh kita keleher,....hingga MATI
kita dulu hidup dengan keluguan kita masing-masing, setelah banyak dunia yang kita masuki, kita ternyata menemukan diri kita sendiri dalam keadaan tercabik-cabik, dan keluguan itu telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, dan bahkan yang tak pernah kita bayangkan.
mengapa harus moralitas, mengapakah kita mencoba berlindung dalam moralitas dan mengebiri diri kita sendiri dalam baju moral yang mungkin sekarang tak terpakai lagi oleh kita? dan tersusun berantakan dalam lemari masa lalu.
lalu ketika semua kritik diri telah kita anggap sebagai lelucon belaka, maka moralitas sesungguhnya hanya kita punyai dalam sedikit konteks.
dulu kita mungkin pernah menjadi seorang yang benar-benar menjaga indoktrinasi dalam diri kita dan kita kunci rapat-rapat dalam kebanggaan sebagai orang yang memiliki moral.
tetapi seiring berkembangnya jaman yang notabene telah membukakan ruang yang seluas-luasnya bagi amoralitas untuk masuk, lalu apakah yang ingin kita tutupi dengan hanya sebuah daun pintu, sementara disekelilingnya ruang luas selebar-lebarnya?
memang ini adalah soal nilai yang bergeser, antara dulu pacaran yang dilarang dan sekarang ngapel tiap malam minggu mengajak anak orang malah diizinkan.
semua sistem nilai mulai longgar dan bukan cara yang tepat jika kita mengencangkannya lagi, justru akan kebablasan
lalu apakah yang dapat kita lakukan sekarang dengan keadan yang telah begini?
apakah mungkin karena telah banyaknya indoktrinasi nilai, konsepsi tentang baik buruk justru semakin membuat semua tatanan ini menjadi rusak berat.
bukankah akan lebih baik jika semua ini dikembalikan pada titik nol, dimana semua ini seperti apa adanya, semuanya kembali ke millenium purba