Mahasiswa, perantauan, dan sex
Dari beberapa mahasiswa, berapa banyak yang merantau, dan dari beberapa mahasiswa yang merantau itu berapa banyak yang telah mengecap kehidupan sex bebas dan atau yang telah mengecap kehidupan malam. mengapa fenomena ini terus menjelma menjadi sebuah identitas, mahasiswa dengan label perantauan, mungkin tidak semua yang telah mengecap kehidupan seperti diatas. tetapi gejala yang timbul melekat di mahasiswa perantauan.
untuk pertama yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mahasiswa?. mahasiswa telah lama dikenal dengan liberasi pemikiran. nilai norma dalam mahasiswa berada dalam debat individual antara nilai moral positif dan negatif. pergulakan ini didukung dengan kehidupan kampus yang menitik beratkan pada proses liberasi, perdebadatan, serta kontradiksi dinamis.kehidupan akademik kampus tidak semonoton sewaktu dalam masa sekolah, dalam atmosfir kampus, pribadi-pribadi mahasiswa diberikan kebebasan dalam menentukan tahapan, tetapi hal ini lebih ditekankan pada aspek, kemampuan individu mahasiswa. yang mau cepat, yang mau sedang-sedang saja, atau yang mau lambat.
"kita tidak sedang membahas sebuah tesis tentang mahasiswa dan sex, karena ini hanya kondisi yang kita coba amati dari sudut pandang subjektif yang ingin tahu" (Dalang Alif Resastro),
pertanyaan kedua adalah mengapa Perantauan, perpindahan secara geografis juga mendukung perubahan secara nilai, tetapi kesimpulan mengenai akhir dari perpindahan nilai secara sosial adalah sebuah kesalahan, karena aspek sosial tidak statis seperti perpindahan dalam konsep matematis, kita hanya meramal, bukan menghitung atau mengalikan. mungkin inilah salah satu kesalahan konsep teori sosial dalam melihat struktur sosial. kehidupan sosial tidak terlihat ujungnya. ia tidak monoton seperti perpindahan dalam konsep matematik, yang dipengaruhi oleh suatu varian objektif yang terukur, dan dapat dihitung akhirnya.
perantauan yang ingin di bahas disini adalah suatu proses yang menyebabkan perdebatan antara nilai yang dianut oleh individu sebelum transisi geografi dan nilai di titik transisi yang menyebabkan tindakan individu dalam tingkat adaptasi.
dalam nilai urban yang tidak selalu normatif, individu akan mengambil tindakan-tindakan dalam konteks yang menurut individu metropolitan, telah kuno.
ada beberapa tipikal mahasiswa, ada mahasiswa yang telah murtad, dan menukar nilai urban dalam dirinya dan menukarnya dengan nilai baru dalam konteks metropolitan. hal ini sebagian besar dipengaruhi oleh keinginan yang tinggi akan pengakuan eksistensi, nilai urban dalam dirinya dianggap sebagai penghambat untuk kemajuan individualnya, sehingga perubahan adaptasinya mengarah pada perilaku-perilaku tertentu yang dianggap sebagai penentu eksistensinya.
pertanyaan ketiga mengapa sex, sex sebenarnya tidak selalu dalam konteks "sex" yang primitif, dalam nilai yang urban, sex bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tabu, individu dengan transisi geografi, dan dalam hal ini telah menggantikan nilai yang dianggap kuno dalam dirinya, umumnya sebagian besar telah mengecap sex dengan konsep yang baru sebagai bentuk pengakuan eksustensinya. tetapi tidak selamanya sex menjadi penentu bentuk adaptasi ini,tetapi, kondisi dimana fasilitas pendukung lengkap menyebabkan tidak ada lagi pilihan untuk mengingkarinya, dan pada akhirnya sex telah menjadi salah satu tindakan individu untuk bisa mengakui dirinya (ditulis dalam suasana permenungan)
Thursday, October 09, 2008
Saturday, September 20, 2008
ada beberapa kata untuk seorang yang melankolik, dan diantaranya adalah keinskonsistensiannya, hal ini karena melankolik adalah suatu rupa yang berwarna padu antara tegas, realitas dan perlawanan tersembunyi, melankolik bukan selalu berupa rayuan, senduan tapi akhir-akhir ini ia sudah menjelma menjadi kritik, tetapi kritik harus lebih keras dari apa yang tertulis ataupun terdengar, sementara melankolik tidak sekeras apa yang tertulis,ia lebih dalam menyayat, menggambarkan sebuah realitas dalam pigura melankolik akan lebih mendekatkan pada sebuah penghayatan, penghayatan yang akan memanggil kemanusian yang jauh bersembunyi di dalam diri. terkadang realitas yang tergambarkan secara melankolik tidak kita terima sebagai sebuah realitas, tapi terkadang ia kita perolokkan sebagai sesuatu yang banci,sesuatu yang tidak realistik,kata-kata manis tanpa arti. bukankah lidah yang tajam juga akan berasa manis ketika kita menginjaknya dengan penghukuman. sudah berapa "lidah yang tajam" dinegeri ini yang terkelupas dan terkubur di negeri entah berantah, sejarah sudah begitu muak menghadapi matinya "silidah tajam". namun dalam era yang baru dan bau kencur ini, kebebasan sudah seperti pelacur dengan lalat rakus. era melankolis sudah dimulai, karena cerita-cerita yang bisa diumbar hari ini adalah hanya kenangan-kenangan dari masa lalu, iwan fals saja sudah menulis lirik-lirik lagu romantis, bahkan soe hoek gie juga bercumbu dengan mesra dalam filmnya, dan gambar-gambar che juga jadi papan kafe, atau gambar sablon picisan di baju distro yang dipake kencan dan akhirnya harus berlumuran mani karena coitus interuptus sex bebas, dan apakah che juga mau mukanya diciprati sperma. hah, begitu melankoliknya orang di zaman ini. tidak ada lagi perjuangan karena perjuangan sekarang adalah tidur berselimut bersama kekasih dan mendengarkan lagu afgan yang menjadi the best artist MTV. sudah lah aku juga tidak ingin menjadi "lidah tajam", yang bisa saja diracun dalam penerbangan oleh pilot, dan lebih penting karena lidah tajam juga manusia yang punya sisi melankolik. inilah era kritik yang melankolik, sehingga tidak dapat terdengar keangkasa, bahkan demo pun tak laik seperti drama bencong yang memukul dengan tangan "ahhh, mas koruptor kok gitu sehh...benci dehhhh.". hahahahahaha
Wednesday, December 12, 2007
kita hidup dalam dua dunia yang berbeda, duniamu dan duniaku, mampukah itu menyatu?
waktuku sedikit,waktumu mungkin lebih sedikit
mungkin kita butuh ruang baru, ruang untuk saling menyapa, dan sebentar-bentar tertawa, sebuah jendela maya, yang jauh dari realita
untukmu diariku,.........
tempat keluh, beberapa pesan,kritik, atau perasaanku yang melankolik.....
waktuku sedikit,waktumu mungkin lebih sedikit
mungkin kita butuh ruang baru, ruang untuk saling menyapa, dan sebentar-bentar tertawa, sebuah jendela maya, yang jauh dari realita
untukmu diariku,.........
tempat keluh, beberapa pesan,kritik, atau perasaanku yang melankolik.....
Friday, February 09, 2007
semua tentang kita, apakah yang pantas menyangkal pengakuan kita akan ke"ada"an seseorang, tentang orang-orang yang ada disekitar kita? secara empiris kita mengakuinya, secara bahasa pemilihan kata "kita" adalah pengakuan terhadap eksistensi diluar diri kita, namun agaknya untuk apakah semua ini dibahas? kita memang memiliki apa yang kita sebut sebagai sebuah realitas bahasa? dan kadang kita mencoba mengutak-atik berbagai masalah dengan menggunakan realitas ini, walaupun tidak sangat subsantial, cenderung shopistik, dan itu tidak melahirkan apa-apa, semua tentang kita hanyalah kata, sebuah judul lagu, sebuah kenangan, sebuah keakraban, dan yang lainnya.....
pada suatu titik kita akan kehabisan kata, walaupun ada berjuta kata didalam kamus, didalam pengalaman, lalu mengapa kita masih kehabisan kata?
orang yang jatuh cinta dan sedang menggombal pasangannya akan kehabisan kata,
seorang penulis yang stress harus menyelesaikan karyanya kehabisan kata,
seorang pencuri yang kedapatan dan dimintai pertanggung jawaban kehabisan kata,
seorang romantis menggambarkan cinta juga kehabisan kata,
seorang blogger maniak kehabisan kata?????
ternyata kita tak bisa bergantung dengan semua itu? ada yang tak terkatakan, sesuatu yang subjektif, hiperrealistik,tak punya bentuk.
gerak akal atau berpikir juga ternyata punya keterbatasan, punya jalur-jalur, dan bagi sebagaian orang mengganggapnya sangat mekanis.
terkadang kita tak butuh penjelasan, argumen rasional, pembenaran
seorang kekasih yang mendekatkan wajahnya ke pasangannya tidak berkata apa-apa hingga menciumnya,
seorang yang sedang dalam emosi yang sangat tinggi tidak mengatakan apa-apa pada saat memukul orang yang dibencinya,
seorang yang menunggu lama dan kecewa tidak mengatakan apa-apa dari penantiannya. apakah yang membatasi mereka untuk tidak berkata?
kita bebas menggunakan realitasnya, tetapi terkadang kebebasan itu juga bukan kebebasan, dan terkadang justru kita melupakannya.
semua tentang kita,....
bukan kebebasan, tetapi keteraturan...
bukan argumen, tetapi tindakan,....
bukan tentang kita, tapi tentang individu,......
pada suatu titik kita akan kehabisan kata, walaupun ada berjuta kata didalam kamus, didalam pengalaman, lalu mengapa kita masih kehabisan kata?
orang yang jatuh cinta dan sedang menggombal pasangannya akan kehabisan kata,
seorang penulis yang stress harus menyelesaikan karyanya kehabisan kata,
seorang pencuri yang kedapatan dan dimintai pertanggung jawaban kehabisan kata,
seorang romantis menggambarkan cinta juga kehabisan kata,
seorang blogger maniak kehabisan kata?????
ternyata kita tak bisa bergantung dengan semua itu? ada yang tak terkatakan, sesuatu yang subjektif, hiperrealistik,tak punya bentuk.
gerak akal atau berpikir juga ternyata punya keterbatasan, punya jalur-jalur, dan bagi sebagaian orang mengganggapnya sangat mekanis.
terkadang kita tak butuh penjelasan, argumen rasional, pembenaran
seorang kekasih yang mendekatkan wajahnya ke pasangannya tidak berkata apa-apa hingga menciumnya,
seorang yang sedang dalam emosi yang sangat tinggi tidak mengatakan apa-apa pada saat memukul orang yang dibencinya,
seorang yang menunggu lama dan kecewa tidak mengatakan apa-apa dari penantiannya. apakah yang membatasi mereka untuk tidak berkata?
kita bebas menggunakan realitasnya, tetapi terkadang kebebasan itu juga bukan kebebasan, dan terkadang justru kita melupakannya.
semua tentang kita,....
bukan kebebasan, tetapi keteraturan...
bukan argumen, tetapi tindakan,....
bukan tentang kita, tapi tentang individu,......
Wednesday, December 13, 2006
kita lupa sesuatu
disini dalam sebungkus imaji
dan lahirlah apa yang kubaca ini
kita lupa sesuatu
disana dalam sekerat emosi
dan ialah kau kusayangi
mungkin kita ingat sesuatu
disini dalam sebungkus imaji
dan kita mengenal benci
atau memaknai
sebuah senyum dipinggir, sebagai olokan
mungin kita ingat sesuatu
disana dalam sekerat emosi
kita telah membunuh dan mati
sampai semua mengakui
adalah kita manusia saling membunuh
mungkin suatu saat kita akan lupa atau ingat
bahwa nafas kehidupan tak berhenti
hingga panggilan Ilahi
menyeret ruh kita keleher,....hingga MATI
disini dalam sebungkus imaji
dan lahirlah apa yang kubaca ini
kita lupa sesuatu
disana dalam sekerat emosi
dan ialah kau kusayangi
mungkin kita ingat sesuatu
disini dalam sebungkus imaji
dan kita mengenal benci
atau memaknai
sebuah senyum dipinggir, sebagai olokan
mungin kita ingat sesuatu
disana dalam sekerat emosi
kita telah membunuh dan mati
sampai semua mengakui
adalah kita manusia saling membunuh
mungkin suatu saat kita akan lupa atau ingat
bahwa nafas kehidupan tak berhenti
hingga panggilan Ilahi
menyeret ruh kita keleher,....hingga MATI
kita dulu hidup dengan keluguan kita masing-masing, setelah banyak dunia yang kita masuki, kita ternyata menemukan diri kita sendiri dalam keadaan tercabik-cabik, dan keluguan itu telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, dan bahkan yang tak pernah kita bayangkan.
mengapa harus moralitas, mengapakah kita mencoba berlindung dalam moralitas dan mengebiri diri kita sendiri dalam baju moral yang mungkin sekarang tak terpakai lagi oleh kita? dan tersusun berantakan dalam lemari masa lalu.
lalu ketika semua kritik diri telah kita anggap sebagai lelucon belaka, maka moralitas sesungguhnya hanya kita punyai dalam sedikit konteks.
dulu kita mungkin pernah menjadi seorang yang benar-benar menjaga indoktrinasi dalam diri kita dan kita kunci rapat-rapat dalam kebanggaan sebagai orang yang memiliki moral.
tetapi seiring berkembangnya jaman yang notabene telah membukakan ruang yang seluas-luasnya bagi amoralitas untuk masuk, lalu apakah yang ingin kita tutupi dengan hanya sebuah daun pintu, sementara disekelilingnya ruang luas selebar-lebarnya?
memang ini adalah soal nilai yang bergeser, antara dulu pacaran yang dilarang dan sekarang ngapel tiap malam minggu mengajak anak orang malah diizinkan.
semua sistem nilai mulai longgar dan bukan cara yang tepat jika kita mengencangkannya lagi, justru akan kebablasan
lalu apakah yang dapat kita lakukan sekarang dengan keadan yang telah begini?
apakah mungkin karena telah banyaknya indoktrinasi nilai, konsepsi tentang baik buruk justru semakin membuat semua tatanan ini menjadi rusak berat.
bukankah akan lebih baik jika semua ini dikembalikan pada titik nol, dimana semua ini seperti apa adanya, semuanya kembali ke millenium purba
mengapa harus moralitas, mengapakah kita mencoba berlindung dalam moralitas dan mengebiri diri kita sendiri dalam baju moral yang mungkin sekarang tak terpakai lagi oleh kita? dan tersusun berantakan dalam lemari masa lalu.
lalu ketika semua kritik diri telah kita anggap sebagai lelucon belaka, maka moralitas sesungguhnya hanya kita punyai dalam sedikit konteks.
dulu kita mungkin pernah menjadi seorang yang benar-benar menjaga indoktrinasi dalam diri kita dan kita kunci rapat-rapat dalam kebanggaan sebagai orang yang memiliki moral.
tetapi seiring berkembangnya jaman yang notabene telah membukakan ruang yang seluas-luasnya bagi amoralitas untuk masuk, lalu apakah yang ingin kita tutupi dengan hanya sebuah daun pintu, sementara disekelilingnya ruang luas selebar-lebarnya?
memang ini adalah soal nilai yang bergeser, antara dulu pacaran yang dilarang dan sekarang ngapel tiap malam minggu mengajak anak orang malah diizinkan.
semua sistem nilai mulai longgar dan bukan cara yang tepat jika kita mengencangkannya lagi, justru akan kebablasan
lalu apakah yang dapat kita lakukan sekarang dengan keadan yang telah begini?
apakah mungkin karena telah banyaknya indoktrinasi nilai, konsepsi tentang baik buruk justru semakin membuat semua tatanan ini menjadi rusak berat.
bukankah akan lebih baik jika semua ini dikembalikan pada titik nol, dimana semua ini seperti apa adanya, semuanya kembali ke millenium purba
Saturday, November 04, 2006
kita telah banyak melewati semua kenangan yang mungkin bagi sebagian orang belum dikecapnya, tetapi ini bukan sesuatu yang sifatnya prematur tetapi ini lebih pada sebuah peletakan kepercayaan, bukankah dalam sebuah hubungan yang terpenting adalah soal, kepercayaan. secara jujur mungkin kita sama-sama mengakui bahwa kita mempunyai beban yang mungkin secara psikologis maupun fisik akan menjadi pemicu dalam terjadinya konflik atau bahkan keretakan dalam hubungan kita tetapi mungkin titik dinamisasinya terletak disitu, entahlah kita juga tak memiliki kekuatan untuk mengetahui kuasa Tuhan akan hari esok tetapi kita selalu punya harapan akan hari esok. kita pun tak bisa berkata mengapa kita telah dipertemukan, apakah dalam akhir yang begitu indah atau sebaliknya. karena hidup ini hanyalah pelarian dari satu skenario ke skenario lain mungkin setelah bertemunya kita kita telah atau akan masuk ke skenario yang lain. dan misalkan ini adalah bukan yang terindah, kita masing-masing akan mendapatkan apa yang terindah, selama kita masih memiliki anugerah terbesar yaitu kehidupan. dan selama itu kita masih punya waktu untuk mengejar dan mendapatkan yang terindah itu, semoga kita dapat menjadi lebih dewasa
Sunday, July 23, 2006
what people want to learn about? the living after death? many stars in sky? about woman's love? we never found the answer, until we keep finding the answer, just like eating the airs.
its no pesimistic in my state? I just try to warn myself to keep doing something that may be more useful than those things. I like punish myself
its no pesimistic in my state? I just try to warn myself to keep doing something that may be more useful than those things. I like punish myself
Subscribe to:
Posts (Atom)